Kamis, 08 Januari 2015

Faktor Pembatas terhadap organisme



BAB I
PENDAHULUAN

A.                      Latar Belakang
Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh berbagai hal disekelilingny, yang disebut dengan faktor lingkungan. Lingkungan yang mempunyai dimensi ruang dan waktu, yang berarti kondisi lingkungan tidak mungkin seragam baik dalam arti ruang maupun waktu. Kondisi lingkungan akan berubah sejalan dengan perubahan ruang, dan akan berubah pula sejalan dengan waktu. Organisme hidup akan bereaksi terhadap variasi lingkungan ini, sehingga menghasilkan hubungan nyata antara lingkungan dan organisme yang hidup, hal ini akan membentuk suatu interaksi yang disebut dengan  komunitas dan ekosistem.
Lingkungan organisme tersebut merupakan suatu kompleks dan variasi faktor yang beraksi berjalan secara simultan, selama perjalan hidup organisme itu. Ada kalanya tidak sama sekali, hal ini tidak saja bergantung pada besaran intensitas faktor itu dan faktor – faktor lainnya dari lingkungan, tetapi juga kondisi organisme itu, baik tumbuhan maupun hewan. Faktor - faktor tersebut dinamakan faktor pembatas
Dengan mengetahui faktor pembatas (limiting factor) suatu organisme dalam suatu ekosistem maka dapat diantisipasi kondisi-kondisi di mana organisme tidak dapat bertahan hidup dan dapat di kembangkan lingkungan yang memungkinkan atau di rancang sedemikian rupa lingkungan yang memungkinkan organisme tersebut bertahan hidup, hal ini dapat di jadikan solusi dalam permasalahan habitat bagi organisme.
Umumnya suatu organisme yang mempunyai kemampuan untuk melewati atau melampaui faktor pembatasnya maka ia memiliki toleransi yang besar dan kisaran geografi penyebaran yang luas pula. Sebaliknya jika organisme tersebut tidak mampu melewatinya maka ia memiliki toleransi yang sempit dan memiliki kisaran geografi penyebaran yang sempit pula. Kemampuan tersebut meliputi proses adaptasi dari masing-masing organisme, baik adaptasi morfologi fisiologi maupun adaptasi tingkah laku. Dan juga tidak sedikit  pula, organisme tertentu yang tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi mampu memanfaatkan periodisitas alami untuk mengatur dan memprogram kehidupan untuk keberlansungan hidup dan keneradaannya di permukaan bumi ini.
Dimakalah ini akan menjelaskan lebih dalam lagi mengenai prinsip – prinsip dan hal-hal yang berhubungan dengan faktor pembatas tersebut.
B.                       Rumusan Masalah
1.         Apa faktor-faktor pembatas yang mempengaruhi kehidupan dari  tiap organisme?
2.         Apa saja azas faktor pembatas ?
3.         Bagaiman pengaruh faktor pembatas terhadap organisme?

C.                       Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini untuk mengetahui apa saja yang menjadi faktor pembatas, dan prinsip – prinsip yang berkaitan dengan faktor pembatas serta pengaruhnya faktor pembatas terhadap organisme. Dan sebagi bahan bacaan untuk meningkatkan ilmu bagi para pembaca.
BAB II
LANDASAN TEORI
a.                       Faktor Fisik sebagai Pembatas dalam Ekosistem
Dengan mengetahui faktor pembatas (limiting factor) suatu organisme dalam suatu ekosistem maka dapat diantisipasi kondisi-kondisi di mana organisme tidak dapat bertahan hidup(Champbell, 2000). Sehingga dalam proses penyelamatan dan pelestarian hidup untuk organisme tertentu dapat dilakukan atau dapat dirancang, dan juga untuk menghilangkan dan memimalisasikan suatu organisme dalam suatu ekosistem dapat dijaga.
Menurut Hutagalung (2010), pada dasarnya suatu organisme mempunyai kemampuan untuk melewati atau melampaui faktor pembatasnya maka organisme tersebut memiliki toleransi yang besar dan kisaran geografi penyebaran yang luas pula. Sebaliknya jika organisme tersebut tidak mampu melewatinya maka ia memiliki toleransi yang sempit dan memiliki kisaran geografi penyebaran yang sempit pula. Tidak sedikit didapati pula bahwa ada organisme tertentu yang tidak hanya beradaptasi dengan faktor pembatas lingkungan fisik saja, tetapi mereka bisa memanfaatkan periodisitas alami untuk mengatur dan memprogram kehidupannya guna mengambil keuntungan dari keadaan tersebut.
Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari, suhu, ketersediaan sejumlah air, gabungan antara faktor suhu dan kelembaban, dan lain sebagainya.

b.                       Faktor Kimiawi dan Nonfisik Ekosistem
Menurut Hutagulung (2010), faktor pembatas nonfisik merupakan satu atau sekumpulan unsur-unsur kimia yang terdapat dalam lingkungan yang akan menjadi faktor pembatas bagi organime tertentu untuk dapat hidup dan berinteraksi dalam ekosistem.
Dan juga kondisi lingkungan perairan berbeda dengan kondisi lingkungan daratan, unsur kimia yang terdapat di perairan antara lain seperti; O2, CO2, garam terlarut dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya. Garam yang terlarut dalam air, seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia akan menjadi faktor penghambat bagi keberlanjutan organisme tertentu.
Menurut  Prawiro (2003), tanah merupakan kumpulan besar zat-zat kimia, baik dari usur yang terkecil sampai yang terbesar yang bersatu menjadi bagian dari tanah. Tanah  terdiri atas bahan induk, bahan organik, dan mineral yang hasil pencampurannya dapat membentuk tekstur tanah tertentu. Ruang-ruang antara hasil pencampuran bahan-bahan tadi diisi oleh gas dan air. Kondisi tekstur dan kemampuan tanah inilah yang akan menentukan ketersediaan unsur hara bagi tumbuhan dan hewan di atasnya.

c.                        Hukum Minimum Leibig dan Hukum Toleransi
Hukum Leibig menyebutkan bahwa "sesuatu organisme tidak lebih kuat dari pada rangkaian terlemah dari rantai kebutuhan ekologinya". Hukum Leibig adalah hukum atau ketentuan fenomena alam pada ekosistem tertentu yang menyatakan bahwa organisme tertentu hanya dapat bertahan hidup pada kondisi faktor tertentu dalam keadaan minimum.
Hukum Toleransi Shelford menyatakan bahwa organisme tertentu dapat bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh faktor pembatas minimum saja, tetapi juga ditentukan oleh faktor pembatas maksimum. Dengan mengetahui batas toleransi suatu organisme maka hal ini dapat membantu memahami pola dan penyebaran organisme pada ekosistem tertentu.Untuk menyatakan batas toleransi suatu organisme sering dipakai istilah yang umum, yaitu berawalan steno yang berarti sempit dan eury yang berarti lebar/luas.
Untuk dapat bertahan dan hidup di dalam keadaan tertentu, suatu organisme harus memiliki bahan-bahan penting yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Keperluan-keperluan dasar ini bervariasi antara jenis dan dengan keadaan tertentu. Apabila keperluan mendasar ini hanya tersedia dalam jumlah yang paling minimum maka akan bertindak sebagai faktor pembatas. Walaupun demikian, seandainya keperluan mendasar yang hanya tersedia minimum berada dalam waktu "sementara" tidak dapat dianggap sebagai faktor minimum karena pengaruhnya dari banyak bahan sangat cepat berubah.
Menurut Odum (1996), kondisi minimum dari suatu kebutuhan mendasar bukan merupakan satu-satunya faktor pembatas kehidupan suatu organisme, tetapi juga dalam keadaan terlalu maksimumnya kebutuhan tadi sehingga dengan kisaran minimum-maksimum ini dianggap sebagai batas-batas toleransi organisme untuk dapat hidup. pengaruh lingkungan fisik
BAB III
PEMBAHASAN

A.                      Macam – Macam Faktor Pembatas Bagi Organisme Hidup
Dengan mengetahui faktor pembatas (limiting factor) suatu organisme dalam suatu ekosistem maka dapat diantisipasi kondisi-kondisi di mana organisme tidak dapat bertahan hidup. Umumnya suatu organisme yang mempunyai kemampuan untuk melewati atau melampaui faktor pembatasnya maka ia memiliki toleransi yang besar dan kisaran geografi penyebaran yang luas pula. Sebaliknya jika organisme tersebut tidak mampu melewatinya maka ia memiliki toleransi yang sempit dan memiliki kisaran geografi penyebaran yang sempit pula.
Tidak sedikit didapati pula bahwa ada organisme tertentu yang tidak hanya beradaptasi dengan faktor pembatas lingkungan fisik saja, tetapi mereka bisa memanfaatkan periodisitas alami untuk mengatur dan memprogram kehidupannya guna mengambil keuntungan dari keadaan tersebut.
Faktor pembatas dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
1.         Faktor pembatas fisik
Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor
a.         Cahaya matahari, intensitas cahaya bukan merupakan bagian terpenting yang membatasi pertumbuhan tumbuhan dilingkungan darat, tetapi penaungan oleh kanopi hutan membuat persaingan untuk mendapatkan cahaya matahari dibawah kanopi tersebut menjadi sangat ketat.
b.         Suhu, suhu daapt dikatakan sebagai factor pembatas karena pengaruhnya pada proses biologis dan ketidakmampuan sebagian besar organisme untuk mengatur suhu tubuhnya secara tepat. Dan sebagian organisme tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya lebih tinggi beberapa derajat diatas atau dibawah suhu lingkungan sekitar.
c.          Ketersediaan sejumlah air, air dapat dikatakan sebagai factor pembatas, ketika ada organisme yang hidup terendam diair, tetapi ada masalah keseimbangan air, jika tekanan osmosis intra seluler organisme tersebut tidak sesuai dengan tekanan air disekitarnya. Serta factor yang lainnya.

2.    Faktor pembatas kimiawi dan non fisik
Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya. Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya.
Garam biogenik adalah garam-garam yang terlarut dalam air, seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia ini merupakan unsur vital bagi keberlanjutan organisme tertentu.

B.                       Prinsip – Prinsip yang Berhubungan dengan Faktor Pembatas
1.         Hukum Minimum dari Leibig
Justus van leibig, seorang pelopor dalam penelitian mengenai pengaruh macam – macam faktor lingkungan, terutama unsure kimia didalam tanah, terhadap tumbuhan (pertanian), menemukan bahwa produksi pertanian sering tidak ditentukan oleh bahan nutrisi dalam jumlah banyak, misalnya seperti air atau CO2, karena bahan – bahan ini terdapat dalam jumlah yang banyak dilingkungan, melainkan oleh zat – zat seperti misalnya boron, yang diperlukan oleh lingkungan dalam jumlah yang kecil. Unsure boron dalam hal ini merupakan unsur esensial yang tersedia dalam jumlah yang mendekati tingkat minimum kritis, bersifat membatasi atau menentukan.
Prinsip ini diformulasikan sebagai berikut : “ dalam kondisi yang mantap, maka bahan esensial yang tersedia di lingkungan dalam jumlah yang mendekati minimum kritis, cenderung bersifat membatasi”
Kondisi lingkungan kondisi yang mantap adalah suatu kondisi apabila masukan dan hasil dari energi atau materi terdapat dalam keseimbangan. Hokum ini kurang berlaku jika kondisi lingkungan yang keadaannya kurang mantap, seperti terjadinya eutrofikasi atau polusi.
2.                       Hukum Toleransi dari Shelford
Menyatakan bahwa organisme tertentu dapat bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh faktor pembatas minimum saja, tetapi juga ditentukan oleh faktor pembatas maksimum. Dengan mengetahui batas toleransi suatu organisme maka hal ini dapat membantu memahami pola dan penyebaran organisme pada ekosistem tertentu. Untuk menyatakan batas toleransi suatu organisme sering dipakai istilah yang umum, yaitu berawalan steno yang berarti sempit dan eury yang berarti lebar/luas.
Untuk dapat bertahan dan hidup di dalam keadaan tertentu, suatu organisme harus memiliki bahan-bahan penting yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Keperluan-keperluan dasar ini bervariasi antara jenis dan dengan keadaan tertentu. Apabila keperluan mendasar ini hanya tersedia dalam jumlah yang paling minimum maka akan bertindak sebagai faktor pembatas. Walaupun demikian, seandainya keperluan mendasar yang hanya tersedia minimum berada dalam waktu "sementara" tidak dapat dianggap sebagai faktor minimum karena pengaruhnya dari banyak bahan sangat cepat berubah.
Ternyata kondisi minimum dari suatu kebutuhan mendasar bukan merupakan satu-satunya faktor pembatas kehidupan suatu organisme, tetapi juga dalam keadaan terlalu maksimumnya kebutuhan tadi sehingga dengan kisaran minimum-maksimum ini dianggap sebagai batas-batas toleransi organisme untuk dapat hidup. Namun, dalam kenyataan tidak sedikit organisme yang mempunyai kemampuan untuk "relatif" mengubah keadaan lingkungan fisik guna mengurangi efek hambatan terhadap pengaruh lingkungan fisiknya.

BAB IV
KESIMPULAN

1.                   Faktor pembatas terdiri dari faktor pembatas fisik yang kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari, suhu, ketersediaan sejumlah air, dan lain sebagainya, Faktor pembatas nonfisik yaitu nonfisik seperti zat kimia
2.                   Prinsip – prinsip yang berkaitan dengan faktor pembatas meliputi Hukum Leibig menyebutkan bahwa "sesuatu organisme tidak lebih kuat dari pada rangkaian terlemah dari rantai kebutuhan ekologinya".
3.                   Hukum Leibig adalah hukum atau ketentuan fenomena alam pada ekosistem tertentu yang menyatakan bahwa organisme tertentu hanya dapat bertahan hidup pada kondisi faktor tertentu dalam keadaan minimum.
4.                   Hukum Toleransi Shelford menyatakan bahwa organisme tertentu dapat bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh faktor pembatas minimum saja, tetapi juga ditentukan oleh faktor pembatas maksimum.
5.                   Dengan mengetahui batas toleransi suatu organisme maka hal ini dapat membantu memahami pola dan penyebaran organisme pada ekosistem tertentu.

                                                                                  DAFTAR PUSTAKA             

Campbell.,  Biologi Edisi Kelima Jilid Tiga. Erlangga: Jakarta, 2000.
Hutagalung, RA.,Ekologi Dasar. Erlangga: Jakarta, 2010.
Odum., Dasar-Dasar Ekologi, UGM Press: Yogyakarta, 1996.
Prawiro, T Y Nootohadi., Tanah dan Lingkungan. Depdikbud: Jakarta, 2003.
Soeraatmadja., Ilmu Lingkungan. ITB: Bandung, 1987.
Suwasono, Heddy., Pengantar Ekologi, Universitas Brawijaya: Malang, 1986.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar